Payakumbuh, 21
Juli 2026 – Universitas Negeri Padang (UNP) bersama Dinas Koperasi dan UKM
Provinsi Sumatera Barat menggelar Focus Group Discussion (FGD)
bertajuk "Transformasi Digital dan Ketahanan Sosial Pasca Pandemi:
Studi Komparatif Pemberdayaan Masyarakat di Indonesia dan Asia
Tenggara" di Hotel UNP, Kota Payakumbuh, Selasa (21/7/2026). Kegiatan
ini merupakan bagian dari riset kolaboratif yang bertujuan memperkuat kapasitas
pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam menghadapi percepatan
ekonomi digital pascapandemi.
FGD diikuti
sekitar 100 peserta, terdiri atas 30 pelaku UMKM Kabupaten Lima Puluh Kota
sebagai representasi wilayah sub urban, 30 pelaku UMKM Kota Payakumbuh mewakili
kawasan urban, 30 pelaku UMKM Kabupaten Agam dari wilayah rural, serta 10
pengelola Badan Usaha Milik Nagari (BUMNag). Para peserta tidak hanya menerima
pemaparan materi, tetapi juga dilibatkan dalam diskusi mendalam mengenai
tantangan dan pengalaman di masing-masing wilayah.
Kegiatan
dipimpin oleh Tim Peneliti Riset Kolaborasi Indonesia (RKI) UNP yang terdiri
atas Dr. Yasdinul Huda, S.Pd., M.T. selaku Ketua Mitra UNP, Dr. Rino, S.Pd.,
M.Pd., MM., Dr. Zul Afdal, M.Pd., dan Dra. Armida S., M.Si. sebagai anggota. Dalam
sambutannya, Dr. Yasdinul Huda yang juga menjabat Kepala Pusat Pengabdian dan
Kuliah Kerja Nyata (KKN) UNP menegaskan bahwa transformasi digital tidak semata-mata
persoalan teknologi, melainkan sangat ditentukan oleh kekuatan modal sosial dan
kolaborasi masyarakat.
Acara secara
resmi dibuka oleh Ir. Rina Morita, M.Si., Fungsional
Pengembangan Kewirausahaan Ahli Madya dari Dinas Koperasi dan UKM Provinsi
Sumatera Barat. Dalam arahannya, ia menyoroti bahwa perekonomian daerah sangat
bergantung pada kemampuan 740.347 unit UMKM di Sumatera Barat untuk beradaptasi
dengan teknologi. Dari jumlah tersebut, sekitar 99,73 persen merupakan usaha
mikro, sehingga penguatan kapasitas pelaku usaha menjadi keniscayaan.
Rina Morita memaparkan bahwa Pemerintah Provinsi Sumatera Barat terus menggerakkan berbagai program pemberdayaan, seperti penumbuhan wirausaha baru, pelatihan kewirausahaan, fasilitasi akses pembiayaan, sertifikasi halal, peningkatan kualitas produk, dan perluasan akses pemasaran. Selain itu, hadir pula Klinik UMKM Minang Bangkit yang berfungsi sebagai pusat konsultasi bagi pelaku usaha terdampak bencana, khususnya dalam aspek pembiayaan, pemasaran, dan pemulihan produksi.

Berdasarkan
riset terhadap 90 pelaku UMKM dan 10 pengelola BUMNag dari wilayah Payakumbuh,
Lima Puluh Kota, dan Agam, tim peneliti mengungkap sejumlah temuan kunci
mengenai profil dan perilaku digital masyarakat.
Dominasi
Perempuan. Riset menunjukkan bahwa 81,2 persen responden adalah perempuan.
Temuan ini menegaskan peran sentral kaum ibu dalam menggerakkan ekonomi digital
keluarga di Sumatera Barat. Usia Produktif dan Adaptif. Sebanyak 73,8
persen pelaku usaha berada pada rentang usia 25–44 tahun, kelompok yang dinilai
paling cepat menyerap dan mengaplikasikan teknologi baru. Dampak Ekonomi
Nyata. Adopsi teknologi digital terbukti mampu meningkatkan pendapatan
usaha lebih dari 20 persen sekaligus memperluas jangkauan pemasaran hingga
mancanegara. Kekuatan Gotong Royong. Nilai solidaritas dan gotong
royong mendapat skor tinggi, yakni 4,31, menjadi perekat utama yang menjaga
ketahanan komunitas tetap stabil meskipun dilanda krisis pandemi.
Di sisi lain,
persepsi pelaku usaha terhadap efisiensi digital juga sangat tinggi dengan skor
4,68. Namun, penelitian mengidentifikasi sejumlah tantangan struktural.
Kesenjangan infrastruktur masih terlihat jelas, di mana wilayah perkotaan
memiliki fasilitas lebih memadai (skor 3,95) dibanding pedesaan (3,48).
Keterbatasan perangkat juga menjadi kendala, dengan 52,5 persen responden hanya
mengandalkan ponsel pintar, yang membatasi produktivitas dibandingkan pengguna
laptop. Selain itu, pelatihan pemasaran digital berbahasa Inggris masih minim,
dengan skor rendah 3,18, sehingga menghambat daya saing UMKM di pasar global.
Para narasumber
sepakat bahwa transformasi digital harus dibangun secara inklusif melalui
kolaborasi lintas pemangku kepentingan, meliputi pemerintah, perguruan tinggi,
dunia usaha, komunitas, dan masyarakat. Pemerataan infrastruktur digital,
penguatan literasi digital, pengembangan kelembagaan ekonomi lokal, serta
pemberdayaan kelompok rentan menjadi langkah strategis dalam memperkokoh
ketahanan sosial dan ekonomi pascapandemi.
Kegiatan FGD ini diharapkan menjadi landasan dalam penyusunan Model Literasi Digital Nagari (MoLDIN) yang inklusif, dengan memperkuat peran BUMNag sebagai pusat layanan digital desa dan mendorong pemerataan akses teknologi hingga ke pelosok daerah. Dengan demikian, ekosistem usaha yang tangguh, inovatif, dan berdaya saing di era transformasi digital dapat terwujud secara berkelanjutan (YH-HE/LPPM).








